Komentar IAIN/UIN Tentang Dzikir Anjing-hu Akbar di Kampus

penyusupan anti-Tuhan di IAIN/UIN
Komentar Pembantu Rektor V IAIN/UIN tentang dzikir "Anjing-hu Akbar dan "Kawasan Bebas Tuhan" di kampus Sunan Gunung Djati, Bandung.

"Tidak benar jika telah terjadi upaya penyusupan paham anti Islam dan anti-Tuhan. Saya pikir, semua itu bermula dari berbedaan pijakan berpikir. FUUI (Forum Ulama Ummat Indonesia) berpikir secara dogmatis, sedangkan IAIN berpijak pada pola pikir akademis. Jadi, sebenarnya tidak ada masalah seperti itu di IAIN,"kata Pembantu Rektor V, Dr. Moh. Najib, M.Ag., seusai dialog antara dosen dan alumni Jurusan Akidah Filsafat diKampus IAIN SGD, Kamis (7/10).

Kendati demikian IAIN berjanji akan proaktif mencermati dan mempelajari dengan seksama, sebelum menyingkapi tuduhan tersebut, sebab IAIN merasa prihatin terhadap kejadian itu. Oleh karena itu ,
untuk lebih mendapatkan keakuratan data dan informasi berkaitajn dengan kebenaran pernyataan mahasiswa tersebut, IAIN membentuk Tim Verifikasi dan Klarifikasi.

"Sedangkan penanganan terhadap pernyataan mahasiswa tersebut dilakukan melalui proses akademik dan peraturan yang berlaku. Selain itu kami mengimbau masyarakat untuk lebih arif dan bijak serta tidak terprovokasi dalam menyingkapi kasus ini dan tetap berupaya menjaga tali ukhuwah islamiah," kata Najib.

Najib menjelaskan, temuan TIAS FUUI (Tim investigasi Aliran Sesat Forum Ulama Ummat Indonesia) tentang kata "anjing" yang diduga dinisbatkan kepada Tuhan itu terjadi saat seorang mahasiswa semester V jurusan akidah Filsafah berinisial Fr berorasi dihadapan mahasiswa baru dalam kegiatan ta'aruf, 25-28 Agustus 2004 lalu.

"Saat itu, Fr berorasi mewakili Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Akidah Filsafat. Nah, dalam kesempatan itulah, Fr berbicara dalam konteks filsafat dengan mengutip pendapat berbagai filsuf. Memang benar terdapat kata "anjing" ketika Fr berorasi. Akan tetapi kata itu tidak bisa lantas dinisbatkan kepada Tuhan. Jadi, di sini, telah terjadi semacam kesalahmengertian pada si pelapor dalam hal memaknai konteks kalimat filsafat yang diucapkan Fr," tuturnya.

"Bebas Tuhan"

Fakta kedua tentang frase "Bebas Tuhan", lanjut Najib, juga terjadi dalam rangkaian kegiatan ta'aruf mahasiswa baru IAIN UGD. Ia menyatakan, frase tersebut tertulis pada sebuah spanduk yang dipajang di sekretariat HMJ Perbandingan Agama. Menurutnya, keslahmengertian juga terjadi pada "fakta" kedua ini.

"Dalam konteks ini, frase 'Bebas Tuhan' tidak bisa lantas diterjemahkan dan disetarakan dengan frase 'bebas sampah'. Dengan frase tersebut, sebenarnya HMJ Perbandingan Agama hendak mengatakan kepada mahasiswa baru bahwa frame berpikir kita terhadap "tuhan" harus dibebaskan untuk kemudian menemukan Tuhan yang sebenar-benarnya Tuhan. Dan, hal itu hanya bisa dilakukan setelah mempelajari ilmu perbandingan agama,"ytegasnya.

Dalam kontes akademis, lanjut Najib, IAIN tidak bisa membelenggu pola pikir mahasiswa. Pemikran model dua kasus tersebutsangat dibebaskan karena memang kurikulum  memungkinkan mahasiswa untuk memilih pola pikir yang dianggap pas bagi dirinya. :jadi, dalam hal ini Fr atau IAIN secara umum, tidak bermaksud menyebarkan pola pikir semacam itu kepada para mahasiswa. Dengan demikian, kami berharap agar masyarakat arif dan bijaksana dalam menyingkapi hal tersebut," katanya.

Sumber: (Buku) Ada Pemurtadan di IAIN
Penulis: Hartono Ahmad Jaiz

Penulis buku ini mendapatkan informasi dari HU. Pikiran Rakyat Edisi Jum'at 8 Oktober 2004.

Setelah membaca pembelaan dari Pak Najib ini, apa komentar antum?


Wasalam,

Catatan Haikal

Dapatkan artikel terbaru melalui email:

19 Responses to "Komentar IAIN/UIN Tentang Dzikir Anjing-hu Akbar di Kampus"

  1. Kalau masalah seperti ini mas perlu diluruskan, apa sebenarnya maksud dari pada ungkapan dan yang melatar belakangi..???

    BalasHapus
  2. Jadi penasaran pengen baca lengkap bukunya... tapi pasti gak dijual bebas ya... coba tanya teman yang kuliah disana...

    kalau menurut saya, bukannya gak mungkin lho ada penyusup yang berhasil menyusup meskipun kita tahu pastinya orang-orang disana kuat banget sama agamanya... tapi ya begitulah, kadang semakin kita kuat dan istiqomah terhadap agama khususnya semakin banyak pula godaan yang menghampiri yang berusaha menggoyahkan kita... tapi tentunya itu semua kembali lagi ke diri kita masing-masing ya... mungkin intinya, terus pertebal iman dan pandai-pandailah memilih teman dan bergaul...

    BalasHapus
  3. Belum saya baca sob.., yang penting saya ninggalin jejak disini dulu.., hehehe :D

    BalasHapus
  4. wah bener2,,,apa kayak pluralisme ya..

    BalasHapus
  5. Berkujung siang.... meninggalkan "JeJaK", :)

    BalasHapus
  6. Wah, masalahnya sensitif ya.... Harus hati-hati dalam mencermatinya....

    BalasHapus
  7. Assalamualaikum... mampir lagi disini :)

    Kalau kita cermati kembali apa yang disampaikan oleh Bapak Najib seperti yang tertulis diatas, penjelasan beliau menurut saya masuk akal dan bisa dipahami...

    tapi mungkin bagi sebagian orang yang tidak mengetahui pasti apa makna dari kata yang terdapat pada orasi dan tulisan yang tertulis pada spanduk tersebut, ya pastinya akan sangat kaget...

    nah mungkin, siapapun atau pihak apapun ketika ingin menyampaikan sesuatu kepada khalayak (yang banyak dibaca masyarakat umum) hendaknya atau alangkah baiknya menggunakan kata-kata yang mudah dipahami saja yang tidak mengundang pemikiran-pemikiran negatif... :D

    BalasHapus
  8. saya alumni Aqidah filsafat angkatan ke-2 masuk 1990, saya malah menemukan Tuhan saya di AF, Bahkan saya semakin yakin dengan Islam saya. Saya malah balik bertanya kepada mereka yang menghujat mau kalian apa? AF dibesarkan oleh Prof.DR.H.Afif Muhammad,MA dengan penuh keimanan yang tidak saya temukan dari pejabat sekaliber beliau, trims

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah kl seperti itu kenyataannya.
      Tp kl penulis buku ini telah memfitnah, kenapa tidak dilaporkan ke polisi ajj

      Hapus
  9. Pak Najib judah keseleo logika-nya

    BalasHapus
  10. Jika ada yang salah semoga Allah SWT memberikan Hidayah kepadanya.

    BalasHapus
  11. makanya ada baiknya kawan2 UIN itu dibekali agamanya dengan benar
    dengan cara pemisahan antara ikhwan dan akhwat.... jgn di campur kyk skrg ini.

    BalasHapus
  12. hmm mungkin yang menarik dari acara tersebut adalah majas ironi. dimana mereka sengaja menggambarkan diri sebagai manusia yang salah kepada para mahasiswa baru. mereka memvisualkan bentuk dari manusia yang belum menemukan Tuhan, yang hanya menyembah karena tuntutan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Allahu a'lam bish-shawab.
      Kita liat ajj nanti keluaran dari UIN bila jadi komentator. Mereka membela Islam atau ingin mengobok-obok Islam

      Hapus
  13. Untuk konsumsi akademik tapi disebar luaskan ke orang2 bodoh yang sok benar.. belajar agamanya aja cuma dari guru ngaji yang notabene tidak punya keahlian lain selain ngaji (yang sebenarnya bukan keahlian juga sih), tidak mungkin dapat memahami apa yang dipahami oleh kaum akademis. Tuhan yang masih bisa dihina itu sejatinya bukanlah tuhan.. itu khayalan anda sendiri..

    BalasHapus

# Di larang mencantumkan LINK AKTIF

Bila Antum melanggar, maka komentarnya akan DIHAPUS!!!