Kerjasama Belanda Dengan Orang Cina


Pada tahun 1770 penduduk Batavia sekitar 123.000 jiwa, Orang Cina 22.000 jiwa, penduduk asli 68.000 jiwa, budak belian 17.000 jiwa, sedang orang Belanda dan Eropa lainnya baru berjumlah 1.138 jiwa.
Setelah rujuk kembali Belanda mulai memberikan kepercayaan kepada orang Cina untuk bergerak dibidang Ekonomi, termasuk di antaranya pemungutan cukai pasar.  Pajak pasar di serahkan dengan cara borongan.
Kepada pedagang beras misalnya diwajibkan menyewa tikar yang telah disediakan mantri pasar.  Sekalipun pedagang telah memiliki tikar sendiri tetap harus bayar sewa tikar.  Bahkan pedagang warung-an yang ingin menjual beras harus bayar cukai dan minta ijin dulu.  sebelum tahun 1739 jual ikan hanya di Pasar Ikan, kemudian diijinkan keluar dan harus bayar 1 ketip perhari kepada tengkulak pemilik toko atau warung.

Belanda memberikan pangkat Kapitein kepada kelompok suku-suku bangsa yang ada di Batavia.  Masing -masing mendiami perkampungan khusus sehingga kita mengenal adanya Kampung Bali, Kampung Bugis, Kampung Melayu, Kampung Jawa, Kampung Ambon, Kampung Arab, Kampung Cina dan sebagainya.
Seseorang yang di angkat menjadi Kapitein (Kapten) merasa bangga. Hal ini terbukti setiap ada pengankatan selalu diramaikan dengan pesta besar-besaran.  Pernah sewaktu pengangkatan Kapten Ting Ingko di adakan pesta besar-besaran diantaranya menampilkan 156 ular Liang-Liong, ribuan lampion serta atraksi lainnya mengelilingi kota.  Khusus di Tanah Abang kita mengenal Kampung Bali yang kemudian berkembang menjadi nama kelurahan.  Sebagai catatan perlu juga kita singgung pengaruh suku Bali di Batavia ini cukup banyak, diantaranya pengaruh terhadap bahasa Betawi (Jakarta) yang sampai sekarang masih kita gunakan sehari-hari. Misalnya kata-kata "jidad" (kening), "bianglala", "lantas", "menyungkur", "iseng", "ngebet", dan lain-lain.  Bahkan akhiran "in" misalnya "tungguin", "pegangin", dan sebagainya adalah pengaruh dari bahasa Bali. 

Menginjak tahun 1801 pasar Tanah Abang semakin ramai lalu memperoleh ijin tambahan hari rabo (rabu).  pasar-pasar lain juga mendapat tambahan juga.
Hari Minggu : pasar Tanjung Barat/Pasar Minggu.
Hari Senen   : pasar Weltevreden/pasar Senen.
Hari Selasa  : Bogor, Cililitan, Pondok Gede, Tanggerang (Tangerang) dan Cileungsi.
Hari Rabo   : Tanjung Timur dan Tanah Abang.
Hari Kamis : Jatinegara.
Hari Jumat  : Bogor, Senen, Cimanggis, Pulo Gandung dan Lebak Bulus. 
Hari Sabtu  : Bekasi, Cibinong, Tanah Abang dan Grinding.

Mata Uang:
Mata Uang GOBOG
Alat tukar, alat pembayaran atau uang perlu sedikit digambarkan serba singkat.  sebelum kedatangan VOC, penduduk pribumi telah memiliki mata uang sendiri disamping juga mengunakan mata uang Cina (gobog) di buat dari tembaga kuning berlubang segi empat tengahnya.  Mata uang kita zaman pra VOC dan zaman VOC adalah: Posmat, Real, Ryksdaalder, Dukaton, Dukat, Gulden, Bonk dan Stuiverdoit.  Kita mengenal istilah duit adalah mengambil dari kata "doit".
Pada tahun 1630 mata uang asing yang berlaku dan beredar di Batavia antara lain: Perancis, Turki, Hongaria dan  Jepang.  Mata uang yang terkenal adalah "Koban" yang bernilai 10 ringgit yang terbuat dari emas asli.  Karena banyaknya mata uang yang beredar di Batavia, tidak heran kalau setiap hari terjadi transaksi jual-beli mata uang asingdi inggir jalan atau di pinggir kali.  Bank penukar belum ada jadi hanya dari kantung-kekantung saja.

Foto: www.eonet.ne.jp (Mata Uang Gobog)
Bersambung...

Dapatkan artikel terbaru melalui email:

2 Responses to "Kerjasama Belanda Dengan Orang Cina"

  1. aku juga dengar kisah ini sob,tapi kayaknya informasi diatas agak kurang nih,,,apa bisa kasih saya rujukan untuk yang lebih lengkap sob,..soalnya saya ingin mengetahui kisah orang cina di negeri ini sob hehehehe

    BalasHapus
  2. Memang ga di bahas panjang2. Coz, takut melanggar TOS GA (mengandung kekerasan)

    BalasHapus

# Di larang mencantumkan LINK AKTIF

Bila Antum melanggar, maka komentarnya akan DIHAPUS!!!