Pajak Pasar Tanah Abang Tahun 1913

Setelah penjajah semakin mapan, penarikan pajak pasar tidak lagi di borongkan kepada orang-orang Cina, tetapi melalui aparat-aparat pemerintahan.  Samapai akhir abad ke-19 bahkan awal abad ke-20 pasar Tanah Abang belum mempunyai bangunan permanen, hanya ada peningkatan berupa lantai bawahnya mulai dikeraskan pondasi adukannya.  Tahun 1913 pernah di lakukan perbaikan bangunan.

Pajak Pasar Tanah Abang Tahun 1913:
1. Bagi pedagang tetap didalam kios pakai atap: 10-20 sen/1 hari.
2. Bagi pedagang tekstil yang memakai tempat luas: 20-50 sen.
3. Bagi pedagang tekstil yang memakai tekstil yang memakai Balai-balai di los: 10 sen.
4. Bagi pedagang keliling yang masuk ke pasar di luar atap: 1 sen.
5. Bagi pedagang keliling yang masuk ke pasar di bawah atap: 2 sen.

Orang-orang Cina ketika Gubernur Jendral Daendels berkuasa, memperoleh kepercayaan menarik
pajak (termasuk pajak pasar) dan membuka rumah-rumah madat.  Sistem ini oleh Raffles yang menjadi Gubernur dari tahun 1811-1816 dihapus dan di serahkan kepada pemerintah.
Sampai permulaan abad ke-20 pemerintah di Indonesia (Nederlandsch Indie) masih bersifat otokrasi dan sentralisasi.  Baru pada tahun 1903 menjadi desentralisasi dan baru terlaksana tahun 1905 yaitu terbentuk Kotapraja atau Gemeente.
Gemeente Batavia (Kotapraja Batavia) kekuasaannya terbatas mengurusi antara lain:
- jalan umum
- jalan besar
- pertamanan dan lapangan
- pantai dan lereng
- tanggul jalan
- tanbak
- sumur bor
- papan nama
- jembatan.

Serta tugas lain kebutuhan umum:
- got
- riul
- pemandian umum
- kakus umum
- rumah pembantaian (penjagalan) hewan
- los-los pasar

Mengingat los-los pasar yang waktu itu sangat jorok karena bangunan dan lingkungan sangat semrawut, maka pada tahun 1926 Gemeente kemudian melakukan pembangunan/perombakan secara permanen.  Urusan pasar dan pembantaian hewan termasuk dalam komisi yang di sebut Commissie Voor Hat Markwezen En Het Slachtbedryf.  Bangunan pasar merupakan standar bagi pasar di Batavia.  Sampai tahun 1937 terdapat 37 pasar, 5 pasar di antaranya memakai konstruksi beton, 7 pasar dari besi, kayu atau batu.  Luas tanah 4684 M2.  Untuk warung 94.5 M2.  Karena begitu kokohnya hingga banyak yang membangun kantor di atas atapnya. Pembangunan pasar Tanah Abang menelan biaya F156.237,16 sedangkan pasar Senen F139.582,02.
Sampai tahun 1916 Batavia belum mempunyai Walikota.  Pejabat Walikota Batavia pertama bernama Mr. G.J Bisschop, namanya kemudian di abadikan pada nama taman yang sekarang menjadi Taman Suropati.  Sejak 1 Oktober 1926 terjadi perubahan, dari Gemeente Batavia menjadi Stadsgemeente Batavia yang memberi wewenang lebih terarah.  Untuk memperoleh sumber keuangan stadsgemeente mengadakan berbagai Dinas dalam bentuk perusahaan  (bedryf) diantaranya Perusahaan Pasar, Perusahaan Rumah Pemotongan Hewan dan lain-lain.  Masing-masing perusahaan ditetapkan melalui peraturan daerah (Perda).
Putra Betawi yang pernah menduduki jabatan Walikota ialah Mohammad Husni Tamrin yang juga duduk dalam komisi urusan:
Mohammad Husni Tamrin
- pekuburan
- perbaikan kampung
- perusahaan pasar
- perusahaan pemotongan hewan
- lelang ikan
- perumahan rakyat.
Jadi proyek M.H.T (Mohammad Husni Tamrin) seperti yang kita kenal sekarang ini atas perjuangannya.  Yaitu membuat jalan-jalan dan penerangan di perkampungan dengan dibantu oleh ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia).

Foto: http://en.wikipedia.org/
Bersambung...


Dapatkan artikel terbaru melalui email:

3 Responses to "Pajak Pasar Tanah Abang Tahun 1913"

  1. ifo menarik kawan
    tgs beres...

    BalasHapus
  2. infonya mantap sob..,
    misi disini bares.. :D

    BalasHapus
  3. Infonya menarik bangat sob. Dulu masih pake sen2 ya sob... :D

    BalasHapus

# Di larang mencantumkan LINK AKTIF

Bila Antum melanggar, maka komentarnya akan DIHAPUS!!!